Wednesday, 20 March 2013

KONSEP DAN KERANGKA DASAR AKUNTANSI

DEFINISI AKUNTANSI

    AKUNTANSI adalah cabang ilmu dan sekaligus suatu fungsi yang mempelajari atau melakukan tindakan pencatatan, pengklasifikasian, perekapitulasian, analisa, penginterpretasian dan penyediaan informasi penting yang dapat diandalkan secara sistematis, atas transaksi dan kejadian atau peristiwa keuangan, yang diperlukan oleh manajemen dan operasi dari suatu badan usaha untuk penyusunan laporan keuangan yang harus disampaikan kepada para pemangku kepentingan.

    Karakteristik utama dari Akuntansi Keuangan adalah 1) identifikasi, pengukuran dan komunikasi atas informasi keuangan dari suatu 2) entitas ekonomi kepada 3) para pemangku kepentingan. Akuntansi keuangan adalah proses yang bermuara pada penyusunan laporan keuangan dalam badan usaha untuk digunakan oleh pihak internal maupun eksternal. Pengguna laporan keuangan ini termasuk investor, kreditur, manajer, dan aparat pemerintah.

     

TUJUAN LAPORAN KEUANGAN

  1. Menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bag sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.
  2. Menunjukkan tindakan keuangan yang telah dilakukan oleh manajemen, atau pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya.
  3. Menyediakan informasi kepada investor dan calon investor dan kreditur dan pengguna lain dalam proses pengambilan keputusan yang rasional atas investasi, pemberian hutang, dan keputusan lain. Informasi harus dapat dipahami bagi mereka yang memiliki kemampuan yang memadai mengenai aktivitas bisnis dan ekonomi dan memiliki kemauan untuk mempelajari informasi dengan kesungguhan yang cukup.
  4. Membantu investor dan calon investor, kreditur dan pengguna lain untuk melakukan penilaian atas jumlah, waktu, dan ketidakpastian dari penerimaan kas dimasa datang dari dividen atau bunga dan hasil penjualan, penarikan, atau jatuh tempo sekuritas atau pinjaman. Karena aliran kas investor dan kreditur berkaitan dengan aliran kas perusahaan, maka pelaporan keuangan harus menyediakan informasi untuk membantu investor, kreditur dan pengguna lain untuk melakukan penilaian atas jumlah, waktu dan ketidakpastian dari jumlah kas bersih yang didapatkan perusahaan yang bersangkutan.
  5. Menggambarkan dengan sejelas mungkin sumber-sumber ekonomi dari suatu badan usaha, klaim atas sumber ekonomi tersebut (kewajiban badan usaha untuk memindahkan sumber daya ke badan usaha lain dan ke ekuitas pemilik), dan efek dari transaksi, kejadian, dan kondisi yang merubah sumber daya dan klaim kepada sumber daya tersebut.

Untuk dapat mencapai tujuan laporan keuangan diatas, laporan keuangan harus disusun dengan konsep dan teknik penyusunan yang memiliki suatu standar. Hal ini diperlukan supaya laporan keuangan yang disajikan oleh satu perusahaan, menggambarkan keadaan perusahaan tersebut dengan pola yang sama dengan pola laporan keuangan perusahaan lain dalam menggambarkan perusahaan yang dilaporkannya.

Standar tersebut dikenal sebagai KERANGKA DASAR PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN yang dijabarkan dalam Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia, dan lebih dikenal dengan Konsep Akuntansi.

KONSEP AKUNTANSI

KONSEP DAN PRINSIP AKUNTANSI adalah kumpulan kaidah-kaidah dan ketentuan dasar yang dibentuk untuk memberikan kerangka dasar pelaporan keuangan. Karena pelaporan keuangan melibatkan penilaian profesional yang signifikan dari akuntan, konsep dan prinsip ini menjamin lapornan keuangan yang disusun perusahaan tidak akan menyesatkan pengguna laporan keuangan karena penerapan kebijakan dan praktek akuntansi yang menyimpang dari karakter profesi akuntansi. Akuntan harus selalu mempertimbangkan apakah perlakuan akuntansi yang diterapkan sudah konsisten dengan konsep dan prinsip akuntansi.

I. ASUMSI DASAR

  1. DASAR AKRUAL (ACCRUAL BASIS)
    Laporan Keuangan disusun atas dasar akrual. Berdasarkan basis akrual, pendapatan harus di catat pada periode akuntansi dimana pendapatan tersebut diperoleh. Oleh karenanya, pendapatan dicatat pada periode akuntansi ketika pendapatan tersebut timbul dan bukan pada periode dimana pendapatan itu diterima. Sebaliknya, untuk pendapatan diterima dimuka, pengakuan pendapatan tidak dilakukan pada periode akuntansi dimana pendapatan diterima dimuka tersebut diterima, tetapi harus dilakukan pada masing-masing periode akuntansi dimana jasa atau kewajiban yang berkaitan dengan pendapatan diterima dimuka tersebut telah dilaksanakan.

    Kewajiban dan Biaya, harus dicatat pada periode akuntansi ketika biaya itu terjadi atau ketika telah timbul kewajiban untuk membayar biaya tersebut walaupun belum dilakukan pembayaran. Oleh karena itu, Biaya diakui pada periode akuntansi dimana biaya tersebut terjadi, bukan pada periode dimana biaya tersebut dilunasi. Sebaliknya, biaya dibayar dimuka tidak boleh dicatat sebesar pengeluaran kas untuk pembayaran seluruh biaya yang dibayar dimuka, tapi harus diakui pada masing-masing periode dimana jasa atau kewajiban yang berkaitan dengan biaya tersebut telah diterima.

    Basis akrual akuntansi memastikan bahwa biaya telah “sepadan” (matched) dengan pendapatan yang diperoleh dalam satu periode akuntansi. Konsep akrual sangat berkaitan dengan konsep penyepadanan
    (Matching Concept).

    Pengecualian dari aturan umum ini adalah dalam penyusunan Laporan Arus Kas yang tujuan utamanya adalah untuk meyajikan efek aliran kas selama satu periode akuntansi.

  2. KELANGSUNGAN USAHA (GOING CONCERN)
    Konsep Kelangsungan Usaha adalah salah satu konsep fundamental dalam akuntansi yang menjadi dasar penyusunan laporan keuangan. Laporan keuangan disusun dengam asumsi bahwa entitas bisnis akan beroperasi secara berkesinambungan tanpa ada batasan waktu di masa depan, tanpa ada kebutuhan atau keharusan manajemen perusahaan untuk melikuidasi entitas atau melakukan pembatasan secara signifikan aktifitas operasionalnya. Untuk itu, diasumsikan bahwa entitas akan mengakui asetnya dan menyelesaikan kewajibannya dalam keadaan bisnis yang normal.

    Merupakan tanggung jawab manajemen perushaaan untuk menentukan apakah asumsi kelangsungan usaha sesuai dengan kondisi perusahaan pada saat laporan keuangan disusun. Apabila konsep kelangsungan usaha sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi perusahaan dimana laporan keuangan disusun, maka laporan keuangan harus disusun dibawah dasar pelepasan usaha. Hal ini berarti aset akan diakui pada jumlah ekspektasi akan diperoleh ketika dijual (nilai bersih setelah biaya penjualan), bukan pada nilai dimana aset tersebut digunakan dalam proses normal bisnis perusahaan. Aset dinilai secara terpisah, bukan dalam gabungan unit. Kewajiban diakui pada jumlah yang dimungkinkan untuk diselesaikan.

  3. ENTITAS BISNIS (ECONOMIC ENTITY)
    Akuntansi Keuangan berdasarkan pada premis bahwa transaksi dan kekayaan dari suatu entitas bisnis diperhitungkan terpisah dari transaksi dan kekayaan pemilik. Entitas bisnis oleh karenanya dianggap sebagai entitas berbeda untuk kepentingan akuntansi.

    Biaya pribadi pemilik yang dikeluarkan oleh pemilik entitas tidak akan muncul dalam laporan keuangan entitas. Jika biaya pribadi pemilik dibayar dengan aset perusahaan, maka hal itu dianggap sebagai penarikan dalam pengertian akuntansi sama seperti penarikan tunai.

    Konsep Entitas Bisnis juga menjelaskan mengapa Ekuitas pemilik muncul pada sisi kewajiban dalam neraca (sisi kredit). Bagian modal yang dikontribusikan oleh seorang pedagang pada bisnisnya, mewakili suatu bentuk kewajiban (yang dikenal dengan sebutan ekuitas) dari bisnisnya tersebut, yang dianggap pinjaman dari pemilik. Oleh karenanya, ekuitas dicatat disebelah kredit bersama kewajiban lain.

  4. UNIT MONETER (MONETARY UNIT)
    Konsep unit moneter merupakan konsep yang menyatakan bahwa hanya transaksi-transaksi dan peristiwa yang dapat diukur dengan satuan moneter yang diakui dan dicatat dalam laporan keuangan. Hal ini merupakan konsep dasar pengukuran nilai atas setiap elemen dalam laporan keuangan.

    Semua transaksi dan peristiwa yang dicatat dalam laporan keuangan harus dibatasi pada unit nilai moneter mata uang. Pada saat tidak dimungkinkan untuk melakukan penilaian pada nilai moneter yang dapat diandalkan terhadap suatu transaksi atau peristiwa, maka peristiwa atau transaksi tersebut tidak dapat dicatat dalam laporan keuangan.

    Namun demikian, Dimana elemen yang signifikan dari laporan keuangan tidak diakui karena tidak dapat dinilai dalam unit mata uang dengan keandalan yang cukup, segala transaksi material dan peristiwa yang tidak dicatat karena tidak memenuhi kriteria pengurukuran, harus diungkapkan dalam catatan laporan keuangan untuk membantu pengguna mendapatkan pemahaman yang lebih baik terhadap kinerja dan posisi keuangan

    Pada banyak kasus, pembuat laporan keuangan tidak mampu mendapatkan jumlah yang tepat untuk diakui dalam laporan keuangan dan terpaksa melakukan perkiraan yang masuk akal untuk mendapatkan nilai yang paling mendekati. Penggunaan nilai estimasi merupakan bagian yang sangat penting dalam penyusunan laporan keuangan dan selama proses estimasi tidak melibatkan subjektifitas yang terlalu banyak dan yakin bahwa penyusun tidak mengurangi makna keandalan informasi keuangan. Namun nilai estimasi tidak dianjurkan untuk terlalu banyak digunakan dalam pengukuran elemen laporan keuangan. Ada beberapa unsur yang berkaitan dengan konsep pengukuran dengan unit moneter. Unsur ini bisa pula disebut sebagai dasar pengukuran dalam penentuan nilai dalam penyajiannya di laporan keuangan. Dasar Pengukuran tersebut adalah sebagai berikut:

    1. BIAYA HISTORIS (HISTORICAL COST)
      Prinsip Biaya Historis merupakan konsep pengukuran yang menyatakan bahwa aset harus dilaporkan pada pada biaya untuk memperoleh aset tersebut pada saat transaksi pertukaran, termasuk segala biaya yang diperlukan untuk memperoleh hak milik secara teknis maupun legal sampai aset tersebut berada dalam kepemilikan perusahaan dan dapat dimanfaatkan sepenuhnya. 

      Aktiva dicatat sebesar pengeluaran kas (atau setara kas) yang dibayar atau sebesar nilai wajar dari imbalan (consideration) yang diberikan untuk memperoleh aktiva tersebut pada saat perolehan. Kewajiban dicatat sebesar jujmlah yang diterima sebagai penukar dari kewajiban, dalam jumlah kas atau setara kas yang diharapkan akan dibayarkan untuk memenuhi kewajiban dalam pelaksanaan usaha yang normal.

    2. BIAYA KINI (CURRENT COST)
      Aktiva dinilai dalam jumlah kas (atau setara kas) yang seharusnya dibayar bila aktiva yang sama atau setara aktiva diperoleh sekarang. Kewajiban dinyatakan dalam jumlah kas (atau setara kas) yang tidak didiskontokan yang mungkin akan diperlukan untuk menyelesaikan kewajiban sekarang.

    3. NILAI REALISASI/PENYELESAIAN (REALISABLE/SETTLEMENT VALUE)
      Aktiva dinyatakan dalam jumlah kas (atau setara kas) yang dapat diperoleh sekarang dengan menjual aktiva dalam pelepasan normal (orderly disposal). Kewajiban dinyatakan sebesar nilai penyelesaian; yaitu, jumlah kas (atau setara kas) yang tidak didiskontokan yang diharapkan akan dibayarkan untuk memenuhi kewajiban dalam pelaksanaan usaha normal.

    4. NILAI SEKARANG (PRESENT VALUE)
      Aktiva dinyatakan sebesar arus kas masuk bersih di masa depan yang didiskontokan ke nilai sekarang dari pos yang diharapkan dapat memberikan hasil dalam pelaksanaan usaha normal. Kewajiban dinyatakan sebesar arus kas keluar bersih di masa depan yang didiskontokan ke nilai sekarang yang diharapkan akan diperlukan untuk menyelesaikan kewajiban dalam pelaksanaan usaha normal.

  5. PERIODIC (PERIODICITY)
    Konsep ini menyatakan bahwa perusahaan dapat membagi aktivitas ekonominya dalam periode waktu. Periode waktu ini bisa berbeda-beda, tetapi yang paling banyak digunakan adalah bulanan, per tiga bulan, dan per tahun.

    Semakin pendek periode waktu, semakin sulit untuk menentukan secara benar laba bersih untuk periode tersebut. Laporan Keuangan tiga bulanan, lebih dapat diandalkan daripada laporan bulanan dan laporan tahunan lebih dapat diandalkan daripada laporan per tiga bulan. Investor menghendaki dan menuntut perusahaan untuk cepat memproses dan mempublikasikan informasi. Sementara, semakin cepat informasi diproses dan disebarkan, semakin besar kemungkinan terdapat kesalahan dalam  informasi tersebut.


 

ELEMENTS OF FINANCIAL STATEMENTS

ASSETS.
Probable future economic benefits obtained or controlled by particular entity as result of past transactions or events

LIABILITIES.
Probable future sacrifices of economic benefits arising from present obligations of a particular entity to transfer assets or provide services to otherentities in the future as a result of past transactions or events.

EQUITY.
Residual interest in the assets of an entity that remains after deductingits liabilities. In a business enterprise, the equity is the ownership interest.

INVESTMENTS BY OWNERS.
Increases in net assets of a particular enterprise resulting from transfers to it from other entities of something of value to obtain or increase ownership interests (or equity) in it. Assets are most commonly received as investments by owners, but that which is received may also include services or satisfaction or conversion of liabilities of the enterprise.

DISTRIBUTIONS TO OWNERS.
Decreases in net assets of a particular enterprise resulting from transferring assets, rendering services, or incurring liabilities by the enterprise to owners. Distributions to owners decrease ownership interests (or equity) in an enterprise.

COMPREHENSIVE INCOME.
Change in equity (net assets) of an entity during a period from transactions and other events and circumstances from nonowner sources. It includes all changes in equity during a period except those resulting from investments by owners and distributions to owners.

REVENUES.
Inflows or other enhancements of assets of an entity or settlement of its liabilities (or a combination of both) during a period from delivering or producing goods, rendering services, or other activities that constitute the entity’s ongoing major or central operations.

EXPENSES.
Outflows or other using up of assets or incurrences of liabilities (or a combination of both) during a period from delivering or producing goods, rendering services, or carrying out other activities that constitute the entity’s ongoing major or central operations.

GAINS.
Increases in equity (net assets) from peripheral or incidental transactions of an entity and from all other transactions and other events and circumstances affecting the entity during a period except those that result from revenues or investments by owners.

LOSSES.
Decreases in equity (net assets) from peripheral or incidental transactions of an entity and from all other transactions and other events and circumstances affecting the entity during a period except those that result from expenses or distributions to owners.

source:  INTERMEDIATE ACCOUNTING by Kieso, Weygandt, and Warfield

 

II. KARAKTERISTIK KUALITATIF LAPORAN KEUANGAN

  1. DAPAT DIPAHAMI (UNDERSTANDIBILITY)
    Informasi yang ditampung dalam laporan keuangan adalah kemudahannya untuk segera dapat dipahami oleh pengguna. Untuk maksud ini, pemakai diasumsikan memilki pengetahuan yang memadai tentang aktivitas ekonomi dan bisnis, akuntansi, serta kemauan untuk mempelajari informasi dengan ketekunan yang wajar. Namun demikian, informasi kompleks yang seharusnya dimasukkan dalam laporan keuangan tidak dapat dikeluarkan hanya atas dasar pertimbangan bahwa informasi tersebut terlalu sulit untuk dapat dipahami oleh pemakai tertentu.

  2. RELEVANCE (RELEVANSI)
    Informasi dalam laporan keuangan haruslah relevan dengan hal-hal yang diperlukan oleh pengguna laporan keuangan dalam proses mengambil keputusan. Informasi dapat dikatakan relevan apabila informasi tersebut benar-benar dapat membantu pengguna laporan keuangan untuk memprediksi perkembangan perusahaan di masa depan (predictive value), atau menegaskan atau mengkoreksi hasil evaluasi yang telah dilakukan (Confirmatory Value). Sebagian informasi yang membantu pengguna dalam menegaskan prediksi yang sudah dilakukan dapat pula berguna dalam meramalkan kemampuan perusahaan di masa depan.

    Contoh:
    Sebuah perusahaan mengungkapkan dalam laporan keuangan peningkatan jumlah Earning per Share dari $5 ke $6 dibandingkan periode sebelumnya. Informasi ini relevan untuk investor karena ini dapat membantu mereka untuk menegaskan prediksi yang sudah mereka lakukan berkenaan dengan profitabilitas perusahaan dan juga berguna untuk memprediksi perkembangan di masa datang dalam hal pendapatan perusahaan.

    MATERIALITAS
    Relevansi dipengaruhi oleh materialitas informasi dalam laporan keuangan karena hanya informasi yang material yang mempengaruhi keputusan ekonomi dari pengguna. Informasi tentang adanya satu pelanggan yang berhutang $ 1.000 yang gagal bayar untuk suatu perusahaan yang memiliki total aset senilai $ 10 juta tidak relevan untuk pengguna dalam mengambil keputusan. Namun apabila jumlahnya $ 2 juta, maka informasi ini relevan untuk pengambilan keputusan pengguna laporan keuangan. Informasi lain yang mungkin tidak signifikan dalam jumlah tapi mempengaruhi kelangsungan usaha perusahaan juga harus dilaporkan dalam laporan keuangan.

    Informasi dipandang Material jika kelalaian untuk mencantumkan atau kesalahan dalam mencatat informasi tersebut dapat mempengaruhi keputusan ekonomi pemakai yang diambil atas dasar laporan keuangan. Materialitas tergantung pada besarnya pos atau kesalahan yang dinilai sesuai dengan situasi khusus dari kelalaian dalam mencantumkan (omission) atau kesalahan dalam mencatat (misstatement). Karenanya, materialitas lebih merupakan suatu ambang batas atau titik pemisah dari pada suatu karakteristik kualitatif pokok yang harus dimiliki agar informasi dipandang berguna.

     
  3. RELIABILITY (KEANDALAN)
    Informasi memiliki kualitas andal jika bebas dari pengertian yang menyesatkan, kesalahan material, dan dapat diandalkan pemakainya sebagai penyajian yang tulus atau jujur (faithful representation) dari yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar diharapkan dapat disajikan. Informasi mungkin relevan tetapi jika hakekat atau penyajiannya tidak dapat diandalkan maka penggunaan informasi tersebut secara potensial dapat menyesatkan.

    Agar dapat diandalkan, laporan keuangan harus disajikan dengan memenuhi konsep-konsep sebagai berikut:
    1. Penyajian Jujur (Faithfull Representation) 
      Angka dan keterangan yang ada dalam laporan keuangan harus sesuai dengan apa yang sesungguhnya terjadi. Juga sebaliknya, apa yang sesungguhnya terjadi harus disajikan dalam laporan keuangan sesuai dengan kenyataannya. 
      Informasi keuangan pada umumnya tidak luput dari risiko penyajian yang dianggap kurang jujur dari apa yang seharusnya digambarkan. Hal tersebut bukan disebabkan karena kesengajaan untuk menyesatkan, tetapi lebih merupakan kesulitan yang melekat dalam mengidentifikasikan transaksi serta peristiwa lainnya yang dilaporkan, atau dalam menyusun atau menerapkan ukuran dan teknik penyajian yang sesuai dengan makna transaksi dan peristiwa tersebut.
    2. Substansi Mengungguli Bentuk (Substance Over Form) 
      Transaksi yang dicatat dalam proses akuntansi dari suatu peristiwa keuangan, harus dicatat dan disajikan sesuai dengan substansi dan realitas ekonomi dan bukan hanya bentuk hukumnya. Konsep Substansi mengungguli bentuk menuntut penilaian dari penyusun laporan keuangan supaya mereka dapat menggali sisi bisnis dari dari transaksi dan peristiwa dan untuk menyajikan hal tersebut dengan cara yang merefleksikan esensi yang sesungguhnya atas transaksi tersebut.
    3. Netralitas (Neutrality) 
      Informasi harus diarahkan pada kebutuhan umum pemakai, dan tidak bergantung pada kebutuhan dan keinginan pihak tertentu. Tidak boleh ada usaha untuk menyajikan Informasi yang menguntungkan beberapa pihak, sementara hal tersebut akan merugikan pihak lain yang mempunyai kepentingan yang berlawanan.
    4. Pertimbangan Sehat (Prudence) 
      Penyusunan Laporan Keuangan membutuhkan penilaian profesional dalam penerapan kebijakan akuntansi dan prakiraan. Pertimbangan sehat menghendaki supaya para akuntan mempraktikan sikap kehati-hatian pada saat mengambil kebijakan dan melakukan prakiraan yang signifikan, seperti halnya aset dan pendapatan tidak dicatat terlalu tinggi dan kewajiban dan beban tidak dinyatakan terlalu rendah.
    5. Kelengkapan (Completeness)
          Keandalan informasi dalam laporan keuangan terjadi hanya jika informasi keuangan yang lengkap dapat disajikan dan relevan dengan kebutuhan pengambilan keputusan keuangan dari para pengguna. Untuk itu, informasi harus lengkap dalam semua aspek yang material.

      Informasi yang tidak lengkap mengurangi tidak hanya relevansi laporan keuangan, tapi juga mengurangi keandalannya karena pengguna mendasarkan putusannya pada informasi yang hanya menyajikan gambaran tidak utuh dari entitas yang bersangkutan.

  4. DAPAT DIBANDINGKAN (COMPARABILITY)
    Informasi yang diukur dan dilaporkan dengan metode penyusunan pelaporan yang sama untuk perusahaan yang berbeda bisa dikatakan dapat dibandingkan. Komparabilitas membuat pengguna dapat mengidentifikasi persamaan dan perbedaan peristiwa ekonomi antara satu perusahaan dengan perusahaan lain. Komparabilitas laporan keuangan antara satu perusahaan dengan perusahaan lain yang memiliki jenis usaha yang serupa dapat membantu pengguna laporan keuangan dalam menganalisa dan membandingkan dengan standar industri yang ada. Untuk itu perlu adanya penerapan kebijakan akuntansi yang sama pada semua entitas bisnis yang menyusun laporan keuangan.

    Pengguna juga harus dapat membandingkan laporan keuangan perusahan antar periode untuk mengidentifikasi kecenderungan posisi dan kinerja keuangan. Laporan keuangan satu periode akuntansi harus dapat dibandingkan dengan laporan keuangan periode akuntansi sebelumnya supaya pengguna dapat memperoleh kesimpulan yang berarti mengenai kinerja dan posisi keuangan perusahaan dari waktu ke waktu. Untuk itu pengukuran dan penyajian dampak keuangan dari transaksi dan peristiwa lain yang serpa harus dilakukan secara konsisten untuk perusahaan tersebut, antar periode perusahaan yang sama dan untuk perusahaan yang berbeda.

    CONSISTENCY (KONSISTENSI)
    Ketika perusahaan menerapkan perlakuan akuntansi yang sama untuk transaksi serupa dari waktu ke waktu, perusahaan tersebut memperlihatkan konsistensi penerapan standar akuntansi. Konsep konsistensi bukan diharapkan untuk membuat suatu perusahaan tidak dapat mengganti satu metode akuntansi ke metode lain. Perusahaan dapat merubah metode, tetapi harus kemudian mengungkapkan penerapan metode akuntansi yang baru lebih sesuai dari pada metode lama. Bila disetujui, perusahaan harus mengungkapkan kondisi dan efek dari perubahan metode akuntansi, dan pembenarannya, dalam laporan keuangan pada periode dimana perubahan terjadi. Apabila perubahan prinsip akuntansi terjadi, auditor mengungkapkan hal ini pada explanatory paragraph dari laporan audit. Alinea ini menjelaskan sifat perubahan  dan menginformasikan pembaca untuk melihat ke penjelasan laporan keuangan dimana perubahan ini dijelaskan secara lebih detil.

  5. PENYAJIAN WAJAR
    Laporan keuangan sering dianggap menggambarkan pandangan yang wajar dari, atau menyajikan dengan wajar, posisi keuangan, kinerja srta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan. Meskipun kerangka dasar ini tidak menangani secara langsung konsep tersebut, penerapan karakteristik kualitatif pokok dan standar akuntansi keuangan yang sesuai biasanya menghasilkan laporan keuangan yang menggambarkan apa yang pada umumnya dipahami sebagai suatu pandangan yang wajar dari, atau menyajikan dengan wajar, informasi semacam itu.

No comments:

Post a Comment